LAMPUNG SELATAN – Kasus dugaan perundungan yang menimpa siswi MTsN 1 Lampung Selatan (Lamsel) kian memanas. Orang tua korban meledak emosi lantaran pihak sekolah dianggap abai dan hanya memediasi satu arah, tanpa melibatkan orang tua murid lain yang diduga terlibat dalam aksi pelecehan terhadap putrinya.
Peristiwa nahas ini dialami oleh R (12), siswi kelas VII yang menjadi korban perundungan teman-temannya. Kejadian yang menimpanya sungguh di luar batas kewajaran. Gadis cilik itu dilaporkan menjadi sasaran bully dengan aksi memalukan, di mana celana training-nya dilorotkan oleh teman-teman di dalam kelas hingga nyaris menyentuh lutut.
Akibat trauma berat, R kini ketakutan dan menolak untuk melangkahkan kaki kembali ke sekolah. Sang ayah, ORI (37), mencoba menempuh jalur musyawarah dengan meminta pihak sekolah menggelar pertemuan yang melibatkan seluruh wali murid. Pertemuan tersebut diagendakan pada Sabtu (22/8) lalu.
Namun, harapan itu sirna. Pihak sekolah justru hanya mengundang ORI sendiri, sementara wali murid dari siswa yang diduga menjadi pelaku tak dijamah.
”Harusnya orang tua atau wali murid yang terlibat permasalahan itu diundang. Ini bukan main-main, anak saya sampai nangis,” sesal ORI dengan nada tinggi, Minggu (23/8).
Kekhawatiran ORI bukan tanpa alasan. Selain aksi di dalam kelas, R juga diteror lewat dunia maya. Ponsel R dibanjiri pesan WhatsApp berisi kata-kata tidak senonoh dan ancaman yang membuat bulu kuduk merinding.
”Pakai mengancam WA-nya, mau ditandai anak saya. Apa maksudnya ini? Ini bukan bercanda namanya,” keluhnya sembari menahan kesal.
Mengetahui gelagat yang tidak biasa ini, Satreskrim Polres Lampung Selatan mulai turun tangan. Kanit PPA, Sigit, saat dikonfirmasi mengaku akan segera memantau perkembangan kasus ini.
”Baik, terima kasih informasinya. Besok kita konfirmasi lebih lanjut,” ucap Sigit singkat.
Di sisi lain, pihak MTsN 1 Lamsel mencoba meredam situasi. Kepala madrasah mengaku baru mengetahui kronologi kejadian dan memastikan akan memanggil semua pihak pada Senin (24/8) besok.
”Saya tadi juga sudah menyampaikan permohonan maaf. Kejadiannya baru Jumat kemarin, kami perlu proses untuk mengumpulkan semua wali murid. Insyaallah Senin semua akan dipanggil, surat panggilan sudah disiapkan,” ujar Humas MTsN 1 Lamsel, Vandri Juniardi.
Meski berjanji memproses, pihak sekolah masih gamang menyebut kejadian ini sebagai perundungan. Mereka mengklaim insiden berawal dari “main bersama” yang dianggap kurang etis.
”Awal mulanya hanya murid yang sedang main bersama. Hanya yang kurang etis, mainannya sampai ke arah meloroti celana. Itu yang kami sayangkan,” dalih Vandri.
Sementara itu, keluarga korban hanya berharap pertemuan Senin besok tidak sekadar formalitas. Mereka mendesak sekolah untuk bertindak adil dan memberikan efek jera kepada pelaku agar kejadianserupa tak terulang.
(*)

