LAMPUNGRADAR24.co.id – Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kota Bandar Lampung, Dedi Yuginta, S.E., M.Si., menggelar kegiatan Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan (PIP-WK) di Jalan Nakip, Kelurahan Kota Baru, Kecamatan Tanjungkarang Timur, Kota Bandar Lampung, Minggu (11/10/2026) siang.
Kegiatan yang diikuti masyarakat setempat tersebut menghadirkan dua narasumber, yakni Taufik Hidayatullah, S.Pd., dan Rahmat Navindra, S.IP., dengan Zulkarnain bertindak sebagai moderator. Turut hadir Wakil Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Bandar Lampung sekaligus mantan anggota DPRD Kota Bandar Lampung, Suheli, S.H.
Dalam sambutannya, Dedi Yuginta berharap kegiatan tersebut dapat memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada masyarakat mengenai pentingnya mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Ia juga menjelaskan tiga fungsi utama DPRD, yakni pembentukan peraturan daerah (perda), penganggaran, dan pengawasan. Menurutnya, DPRD memiliki peran dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat melalui berbagai mekanisme, termasuk kegiatan reses di setiap daerah pemilihan.
“Melalui reses, berbagai keluhan, kebutuhan, dan aspirasi masyarakat dapat disampaikan untuk selanjutnya diperjuangkan melalui mekanisme yang ada di DPRD,” jelasnya.
Dedi juga mengingatkan masyarakat agar lebih bijak dalam menyaring informasi di tengah perkembangan teknologi dan modernisasi yang semakin pesat. Menurutnya, masyarakat perlu memiliki landasan nilai yang kuat agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum tentu benar.
Ia menegaskan bahwa Pancasila menjadi dasar penting dalam mempersatukan bangsa Indonesia yang memiliki beragam suku, budaya, dan latar belakang.
“Dengan Pancasila dan wawasan kebangsaan, kita bisa semakin mencintai bangsa sendiri. Salah satu caranya adalah dengan mencintai produk dalam negeri, termasuk makanan khas Nusantara seperti nasi goreng, lontong sayur, dan nasi uduk. Mari kita bangga menggunakan dan mengonsumsi produk bangsa sendiri,” ujarnya.
Sementara itu, narasumber Rahmat Navindra, S.IP., menyampaikan bahwa Pancasila merupakan ideologi dan dasar negara sekaligus pandangan hidup bangsa Indonesia. Nilai-nilai Pancasila menjadi pemersatu masyarakat di tengah keberagaman suku, budaya, agama, dan adat istiadat.
Rahmat juga memaparkan keterkaitan Pancasila dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai landasan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Ia turut menyoroti kondisi global yang diwarnai konflik di sejumlah negara. Menurutnya, situasi tersebut berpotensi memengaruhi pasokan energi dan harga kebutuhan pokok sehingga masyarakat perlu memperkuat kepedulian sosial dan semangat kebersamaan.
“Budaya gotong royong harus terus kita hidupkan, terutama di kalangan generasi muda. Dahulu, kegiatan kerja bakti setiap Jumat menjadi kebiasaan masyarakat. Kita juga harus kembali membangun kepedulian terhadap tetangga dan lingkungan sekitar,” kata Rahmat.
Menurutnya, semangat gotong royong merupakan salah satu bentuk nyata pengamalan Pancasila yang dapat dimulai dari lingkungan keluarga, tetangga, hingga masyarakat luas.
Narasumber lainnya, Taufik Hidayatullah, S.Pd., mengajak peserta untuk memahami kembali identitas bangsa Indonesia serta menjaga nilai-nilai kebudayaan dan moral di tengah perkembangan zaman.
Ia menilai pengaruh budaya luar, termasuk yang masuk melalui media sosial, perlu disikapi secara bijak agar tidak mengikis kecintaan generasi muda terhadap budaya dan jati diri bangsa sendiri.
“Melalui kegiatan Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan ini, kita dapat menyosialisasikan kembali identitas bangsa kepada generasi muda agar mereka memahami dan mengamalkan nilai-nilai kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap Taufik.
Ia juga menjelaskan empat pilar kebangsaan yang menjadi bagian penting dalam kehidupan bernegara, yakni Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), serta Bhinneka Tunggal Ika.
(Ng)




